Entah dari mana harus ku mulai kisahku ini, namun yang paling aku ingat adalah, bahwa aku mempunyai ibu terhebat didunia….,
Aku terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan, aku anak perempuan satu – satunya dari empat bersaudara, aku adalah si bungsu dipastikan bagaimana keluarga ku memanjakan hidupku.
Benar yang banyak diperbincangkan banyak orang, Roda dunia selalu berputar, hari ini adalah masa remajaku dimulai, aku masuk Sekolah Menengah Umum (SMU) ternama di Jakarta, setelah masa Orientasi siswa berakhir, di mulai lah tragedy dalam hidup ku… perusahaan ayahku terancam bangkrut, hutang ayah dimana – mana, rumah tempat tinggal kami pun terancam disita oleh bank, setelah melalui negosiasi yang panjang, perusahaan ayah tak dapat lagi dipertahankan.. kami benar – benar bangkrut. Tak pernah aku bayangkan, kehidupan seperti di sinetron menimpa hidupku, aku dan keluarga ku pindah ke daerah tangerang, karena ibu dan ayahku tak sanggup menahan malu atas segala hutang – hutang yang tak terbayar, sementara kakak – kakak ku tak mampu menanggung beban keluarga ku, karena mereka pun menanggung beban keluarga masing – masing, anak dan istri – istri mereka.
Akhirnya ayah tetap dijakarta bekerja sebagai supir taksi, berusaha menghidupi aku dan ibuku, terlebih biaya sekolahku memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Ibu mencoba membantu ayah, dengan berjualan kacang bawang dari satu kios ke kios lain, dari stasiun satu ke stasiun lainnya, kebetulan rumahku di tangerang dekat sekali dengan stasiun kereta, begitu juga denganku, pulang - pergi sekolah, naik – turun kereta, berangkat jam 04.30 pagi, saat ayam mulai berkokok, dan pulang petang hari saat matahari malu – malu membenamkan sinarnya, aku sama sekali tak merasa letih, tapi saat aku sampai kerumah pada sore hari, ibu ku masih tetap dengan sabar menanyakan perihal sekolah ku hari ini, masih dengan sabar menyendokan nasi untuk ku santap, padahal, aku bisa dengan jelas melihat keriput di tangannya…. Mata yang terlihat lelah, seharian harus menjajakan kacang, namum senyum tulus itu tak pernah pudar dari wajahnya.
Semakin hari, usaha ayah mengais rejeki di Jakarta semakin surut, ayah selalu bilang “susah mencari penumpang di Jakarta” beberapa kali ayah selalu bilang “aku habis dirampok di jalan tol, perampok itu menodongkan pistol ke arahku” lain waktu lagi ayah bercerita “ada seseorang yang memeberikan makanan dan minuman, setelah itu aku tak sadarkan diri, setelah ku terbangun, uang di kantong untuk setoran taksi raib” begitulah ayah…. Tapi ibu ku hanya sibuk membuka kemeja ayah yang lusuh untuk di cuci, mengelap keringat ayah yang mengalir di seluruh tubuhnya, membuatkan teh manis hangat, dan hanya berkata “sabar ayah, mungkin bukan rejeki kita” subhanallah ibuku…. Aku tau, mungkin hatinya saat itu sedang menjerit, ia sangat letih, tapak – tapak kakinya sudah tidak sekuat dulu lagi, ia berumur 58 saat ku tulis kisah ini, tapi semangatnya, melebihi aku yang masih berusia 17 tahun, karena pekerjaan ayah yang semakin hari semakin tak menghasilkan, ibu makin memperkeras usahanya, hanya untuk membeli beras dan biaya sekolahku, untuk lauk pauk, kami hanya memakan seadanya hanya udang rebon yang mampu ibu beli, aku bersyukur, karena kami masih bisa makan.
Suatu hari kejadian naas itu menimpa keluarga ku, karena ketelatenan ibu menjajakan kacang, ia tak lagi perduli waktu siang ataupun malam, aku ingat, saat itu beberapa hari yang lalu, aku mengabarkan pada ibu ku bahwa seminggu lagi aku ujian kenaikan kelas untuk ke kelas 3, dan membutuhkan biaya, malam itu ibuku pergi untuk mengantar kacang ke toko yang berjarak 1 km dari rumahku, dengan berjalan kaki, ibuku menyusuri jalan setapak yang cor diatas sakluran air komplek berkedalaman 1.5 meter, mungkin mata ibu ku sudah tidak sesehat dulu lagi, sehingga ia tak menyadari bahaya yang mengintai di depannya.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengan ibuku, yang aku tahu saat itu, ibu sedang menangis kesakitan saat di bopong oleh seorang tukang ojek, terlihat darah yang mengucur dari paha ibuku, Ya Allah, sakit sekali melihat ibu ku seperti itu, salah satu tukang ojek menjelaskan padaku, bahwa mereka menemukan ibu ku di lubang saluran air, sedang meraung – raung minta tolong, ternyata jalan setapak itu, mempunyai lubang yang tak disadari oleh ibuku, ibu ku terperosok ke dalamnya…. Ya Allah…kenapa harus ibuku, kenapa saat itu aku sangat bodoh, mengapa aku terus – terusan sibuk dengan buku – buku ku…. Aku tahu besok ujian, tapi seharusnya bisa aku tinggalkan, seharusnya aku yang pergi untuk mengantar kacang itu, tokh uang mengantar kacang itu untuk biaya sekolahku, Ya Allah… aku rela menukar semua waktu bahagia di hidupku hanya untuk memutar kembali waktu…. Biar aku saja yang celaka malam itu, tidak perlu orang yang sangat aku cintai itu…!! Beliau sudah hampir meninggal saat melahirkan ku, dan sekarang beliau harus menanggung kehilangan salah satu kakinya hanya untuk biaya sekolahku…., malam itu ibuku tak berhenti menangis, ia kesakitan, ia menjerit sepanjang malam, dan aku…..aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, aku hanya terduduk disampingnya sambil berlinangan air mata, apa yang bisa aku lakukan tanpa ibu ku yang hebat ini…..?? selama ini beliau yang membuat ku tetap bertahan hidup.
Setahun lebih, ibuku berada di pengobatan patah tulang, namun kakinya tak pulih seperti semula…. Karena ibu khawatir dengan biaya pengobatan yang besar, ibu memaksa ayah untuk mengajaknya pulang, ibu memaksa untuk berjalan dengan menggunakan tongkat kayu, betapa mirisnya saat ku lihat ibu ku, aku memeluknya, betapa dalam rasa bersalahku, dengan senyum yang masih terpahat di bibirnya ia masih dengan sabar bertanya “gimana sekolah lia….? Lancar…? Gimana ujiannya…., bagus – bagus gak nilainya…?” Subhanallah…. Ibuu….aku tak menjawab, aku hanya memeluknya, memeluknya dengan erat, rasa rindu, cinta, dan rasa bersalah membaur jadi satu rasa yang sulit kulukiskan.
Alhamdulillah Allah memberikan mu’zizatnya pada ibu ku, ini adalah tahun ke 6 setelah kecelakaan itu terjadi, ibu ku kini sudah bisa berjalan meski dengan tertatih, namun tak lagi menggunakan tongkat kayu itu lagi, tongkat kayu itu pun masih ku simpan, untuk mengingatkan ku bahwa tak ada ibu sehebat ibu ku….., hanya cintanya yang patut untuk ku balas dan kuperjuangkan, “bu… aku memang tak pernah mampu mengucapkan “aku cinta kamu bu” aku tak pernah berucap “aku rindu kamu bu” tahukah engkau bu, bukan aku enggan, tapi cinta dan rinduku padamu terlalu besar hanya untuk di ucapkan, bahkan jika mampu, akan kuberikan seluruh dunia ku hanya untuk membuatmu bahagia dan tetap tersenyum seperti ini, sungguh aku sangat mencintai mu bu, terimakasih karena 23 tahun yang lalu, engkau telah memperjuangkan hidupku, meskipun kata dokter hidupmu lah yang menjadi taruhannya, engkau tetap menginginkanku hidup, terima kasih buu”
“Robbighfirli wali waalidaiya warhamhuma kama robbayani soghiro”.
Sabtu, 28 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)


