"kesempurnaan adalah tentang bagaimana menerima ketidaksempurnaan itu sendiri. Sempurna adalah kemampuan untuk menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari kesempurnaan. Kesempurnaan adalah saat kita dapat merasuk dalam hati seseorang untuk menemukan mutiara diantara bungkus-bungkusnya yang penuh cacat. Kesempurnaan adalah saat kita dapat memahami luka sebagai tekstur kehidupan. Itulah kesempurnaan sejati.. "

Rabu, 10 November 2010

Aku Hampir Kehilangan Calon Bayiku, karena tindakan bodohku....


7 November 2010
At 04.00 WIB
Salahku…… semua salahku ….!
Padahal, dalam rahimku, ada yang bisa dengan tiba – tiba lenyap, meninggalkan kepiluan. Ya… buah hatiku, yang kini sedang bertumbuh kembang dalam rahimku, hampir saja aku bunuh, hanya karena ke-egoisanku, sampai-sampai tak aku perdulikan, bagaimana keadaannya….
Masih bisa ku rasakan, getaran dalam setiap urat nadiku…., melihat hampir 600 ML darah yang mengalir, menyusuri paha dan kaki-ku, tak pelak tubuhku hampir saja limbung, melihat gumpalan darah meyerupai daging segar, Ya Allah…. Jangan sampai itu buah hatiku……, suamiku teriak-teriak histeris melihat darah yang terus mengalir, “Ya Allah, anak gue….jangan Ya Allah….., aduh de’ sakit gak…? Perutnya sakit gak..? apa yang dirasain…?” aku terduduk lemas…. Tak kurasakan sakit sedikitpun disekitar perutku, tempat buah hatiku berlindung, aku sudah seperti orang yang kehilangan kesadaran, saat aku mencoba bangkit dari tempat tidur, kembali darah itu mengalir, suamiku makin menjerit histeris…. Aku tak dapat menahan air mataku, aku takut, terjadi sesuatu apapun menimpa buah hatiku yang pertama, hasil pernikahanku dengan suamiku yang sangat ku cintai.
Suamiku bergegas turun, ke lantai 1, menuju ruangan bundanya, ia sudah tidak sanggup berfikir, apa yang mesti ia lakukan demi menyelamatkan aku dan calon bayi-nya. Dengan wajah linglung, aku turun, dan disuguhkan air the hangat, jam 4.30 WIB, suamiku langsung mengajakku untuk pergi ke bidan terdekat, ia tak perduli harus membangunkan warga sekampung sekalipun.
Sampai bidan, dengan perasaan tak enak hati, aku beranikan diri untuk menekan bel, benar saja, ulahku dan suami, membangunkan seisi rumah bidan tersebut, kami langsung disambut dengan seorang bidan kira – kira berusia 46 – 50 thn,
“ada yang bisa dibantu…?”
Aku terdiam, bibirku terasa terkunci
“kenapa…? Keram…? Flek…”
“aku pendarahan buu, tapi gak mules”
Lalu aku dipandu menuju ruangan periksa, diruangan itu, aku harus membuka separuh pakaian bagian bawahku, lalu sang bidan, memeriksa perutku dengan alat Doppler , ingin menangis saja aku rasanya, sebulan yang lalu, detak jantung janinku sangat kencang, 2x lebih kencang daripada normal, betapa bahagianya aku hari itu, tapi hari ini, Ya Allah, nyaris tak terdengar…. Ditambah lagi ucapan bidan “harus USG, untuk memastikan bisa dipertahankan atau tidak, semoga kami disini tak perlu mengambil tindakan kuret”
Betapa bencinya aku pada diriku sendiri saat itu, betapa bodohnya aku ini, aku hampir membunuh bayiku sendiri…jika sesuatu terjadi pada calon bayiku, aku mungkin tak dapat memaafkan diriku sendiri. Setelah bidan membuatkan surat ijin bed rest untuk kantorku dan surat rujuk USG ke RSUD Cengkareng, aku dan suami pulang dengan penuh kepiluan.
Suamiku memutuskan, untuk memaksa agar aku mau tidur di lt.1, karena ia khawatir aku akan naik-turun tangga hanya untuk sekedar buang air kecil. Aku tak sabar menunggu esok pagi, untuk melakukan USG, aku sangat ingin tahu bagaimana kondisi calon bayiku, sementara darah masih keluar memenuhi pembalut yang sengaja aku pakai untuk mengontrol kondisi ku.

****

8 November 2010
At 10.00 WIB
Tanpa buang-buang waktu, aku dan suami bergegas menuju RSUD Cengkareng, untuk melakukan USG, betapa repotnya orang yang mau berobat, harus daftar, buat kartu pasien, mencari-cari poli yang akan dituju, bayar lagi biaya pendaftaran, dan akhirnya menunggu dipanggil, gimana ya ceritanya kalau orang yang mau berobat itu udah sekarat..??? susah sekali untuk hidup sehat, dari situ bisa diambil pelajaran penting “MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI”
Setelah beberapa lama aku dan suami menunggu, tiba giliran namaku dipanggil untuk masuk ke ruangan poli kebidanan, bertemu dengan Dr. Prahardi Raharjo. SPOg (kalau gak salah). Stelah di USG, aku bisa melihat calon bayiku di monitor, subhanallah, rasanya sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata, aku sangat bahagia, lebih bahagia dibanding ketika pertama kali mencintai suamiku.
Aku bisa melihat calon bayiku bergerak, meski perlahan, dan denyut jantung yg berdenyut meski perlahan, subhanallah…. Terimakasih Ya Allah… telah mempercayakan kehidupan dalam rahimku….
Dokter hanya berkata “gak apa-apa…. Cuma gejala keguguran”
Whattttt…..????? Cuma..??? tau gak sich thu dokter, aku dan suami udah bener-bener mau pingsan, ketika kami dengar denyut jantungnya melemah. Namun semua itu terbayar, ketika dapat ku lihat, gambar samar calon bayiku…. Aku sangat takut kehilangan bayiku….., tapi Alhamdulillah, Allah masih berkenan menitipkannya padaku dan suamiku….
Mulai dari hari itu, aku berjanji, akan menjaga calon bayiku, meskipun harus merelakan nyawaku sekalipun….

Love u my little Krishna…….

0 komentar:

Posting Komentar